FILSAFAT MENURUT PARA TOKOH MUSLIM
FILSAFAT MENURUT PARA TOKOH MUSLIM
Rike Dias Safitri
Universitas Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Abstrak : Filsafat
secara sederhana berati cinta pada pengetahuan atau kebijaksanaan. Pengertian
cinta yang dimaksud adalah dalam arti, yaitu ingin dan dengan rasa keinginan
itulah ia berusaha mencapai atau mendalami hal yang diinginkan. Secara ringkas dapat
dikatakan, Filsafat adalah hasil proses berfikir rasional dalam mencari hakikat
sesuatu secara sistematis,
menyeluruh (universal), dan mendasar (radikal). Pemikiran
filosofis masuk ke dalam Islam melalui falsafat Yunani yang dijumpai ahli ahli
fikir Islam di Suria, Mesopotamia, Persia dan Mesir. Pada masa Bani Umayyah
pengaruh kebudayaan Yunani terhadap Islam belum kelihatan.Pengaruh baru nyata
kelihatan dimasa Bani Abbas, karena yang berpengaruh di pusat pemerintahan
bukan lagi orang Arab, tetapi orang orang Persia yang telah lama berkecimpung
dalam kebudayaan Yunani.Filsafat menurut para tokoh muslim dibagi menjadi 5 yang mempunyai
pendapat berbeda beda mengenai pemikiran filsafat. Tokoh-tokoh tersebut adalah
(1) Al Kindi, (2) Al Farabi (3) Ibnu Sina (4) Al Ghazali (6) Ibn Rusyd. Filsafat Islam hanya dinisbatkan
pada filsuf muslim, dengan demikian para tokoh filsuf muslim mempunyai karya masing masing yang berbeda,
dimana sampai saat ini karya dari para tokoh filsuf muslim sangat bermanfaat
bagi kehidupan, contoh saja Ibn Sina adalah tokoh yang terkenal dengan ilmu
kedokterannya, Dengan demikian filsafat Islam
dalam perkembangannya menjadi lebih mandiri dalam berfikir tentang sesuatu, ia
dapat berkembang dengan subur, memiliki ciri khas dan tidak bertentangan dengan
ajaran-ajaran pokok Islam, walaupun secara umum disadari pula bahwa kebanyakan
obyek pembahasannya sama, yaitu soal Tuhan, manusia (mikro kosmos), dan alam
(makro kosmos).
Kata Kunci : Filsafat Tokoh
Muslim AL Kindi, Al Farabi, Ibn Sina, Al Ghazali, Ibn Rusyd dan Karya Tokoh
Muslim
Sejarah mencatat
bahwa islam pernah memiliki masa kejayaan, yang disebut dengan masa keemasan
islam (goldn age). Fase ini, islam memiliki kejayaan intelektual. Kejayaan pada
waktu itu tidak terlepas dari tokoh-tokoh filsufnya yang memiliki pengaruh
pemikiran dan pandangan luas. Filsuf muslim yang dimaksud antara lain; Al-
Kindi, Al-Farabi, Al- Razi, Al- Gazali, Ibnu Sina, Al- Khuarizmi, Ibnu Rusyd
dan lain-lain. beberapa diantara mereka hidup pada abad yang sama, menjadi
pelopor dan penggerab peradaaban dan kejayaan islam dengan sumbangsih pemikiran
mereka. Kejayaan islam waktu itu teletak di Timur Tengan (Arab). Lebih tepatnya
pada era dinasti Abasiyah. Sejarah ini diabadikan dalam buku-buku sejarah.
Seperti yang
dituliskan dalam beberapa buku sejarah bahwa ketika orang arab menyerbu
kerajaan Persia dan Byzantium, mereka memberlakukan bahasa dan agama mereka
kepada bangsa taklukanya. Akan tetapi , pengaruhnya dalam dua arah. Ketia orang
arab memasuki tradisi wacana filosofis
yunani, Yahudi, dan Kristen, dan mereka mulai mengembangkan suatu tradisi
mereka sendiri yang mirip denganya. Islam berpusat di Bagdad, dan bahasa Arab
menjadi bahasa ilmiah di mana-mana. Selama periode sekitar 750 sampai 900
Masehi, banyak karya yunani yang di terjemahkan ke bahasa arab termasuk
karya-karya tertentu dan bagian-bagian tertentu karya Plato, Aristoteles, dan
Plotinus. Tertarik pada karya-karya ini, pada sarjana Arab mengembangkan kosa
kata bahasa Arabnya. Istilah-istilah tertentu lansung diubah bentuk dari bahasa
Yunani, Termasuk Falsafah pengubahan bentuk dari istilah Yunani, Philosophia.
Seperti
Aristoteles, para Filsuf Arab mencoba menyistematisasi semua pengetahuan,
termasuk apa yang mereka pelajari dari tradisi Yunani. Yang pertama diagenda
filosofis tradisi Arab yang masih muda itu adalah menetapkan peran akal budi
dalam mengetahui kebenaran, khususnya bila dibandingkan dengan wahyu. Sebuah
tradisi para filsuf yang mencoba membawa ajaran-ajaran para filsuf Yunani yang
berhubungan dengan maslah-masalah ini, yang kemudian dikenal sebagai tradisi
peripatetic karena kepercayaan mereka yang kuat pada Aristoteles, yang para
pengikutnya disebut “peripatetik” karena biasanya berjalan sambil mengajar. Akan
tetapi, beberapa filsuf pereipatetik juga sangat dipengaruhi oleh Plotinus,
akibatnya penafsiran mereka terhadap Aristoteles kerap dikembangkan dalam
kerangka emanasi-emanasi, Solomon & Higgins (2000:245-246).
Seperti yang
diuraikan di atas perlu dietahui bahwa, Pemikiran-pemikiran filsuf timur banyak
memberikan sumbangsih pada peradaban modern. Tidak hanya itu dalam perkembangan
ilmu pengetahuan filsuf muslim banyak menyumbangkan pemikiran-pemikiran.
mengenai filsafat pada filsuf muslim dikenal sebagai “Filsafat Islam”.Tokoh
filsuf muslim yang pertama kali menyumbangkan pemikirannya tentang filsafat
adalah Al-Kindi. Tidak hanya Al-Kindi, terdapat beberapa tokoh besar Islam yang
ikut memberikan pemikirannya dan mengkaji ilmu filsafat. Tokoh-tokoh tersebut adalah
Al-Farabi, Al-Razi, Al-Gazali, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd.
Para filosof Muslim banyak mengambil pemikiran Aristoteles,
Plato, maupun Plotinus, sehingga banyak teori-teori filosof Yunani diambil oleh
filosof Muslim. Pengaruh filsafat Yunani inilah yang menjadi pangkal
kontraversi sekitar masalah filsafat dalam Islam. Sejauh mana Islam mengizinkan
masukan dari luar, khususnya jika datang dari kalangan yang bukan saja Ahl
al-kitab seperti Yahudi dan Kristen, tetapi juga dari orang-orang Yunani yang
“pagan” atau musyrik (penyembah bintang). Dengan demikian filsafat Islam dalam
perkembangannya menjadi lebih mandiri dalam berfikir tentang sesuatu, ia dapat
berkembang dengan subur, memiliki ciri khas dan tidak bertentangan dengan
ajaran-ajaran pokok Islam, walaupun secara umum disadari pula bahwa kebanyakan
obyek pembahasannya sama, yaitu soal Tuhan, manusia (mikro kosmos), dan alam
(makro kosmos).
PEMIKIRAN PARA
FILSUF MUSLIM
1.
Al-Kindi (795-873 M)
Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf
Ya’qub Khufah. Ia berasal dari keturunan bangsawan Arab dari Kindah di Arab
Selatan. Orang tuanya adalah seorang gubernur di Basrah pada masa pemerintahan
Al-Mahdi dan Harun Al-Rasyid.[ Ibid., hlm. 167]
Al-Kindi dilahirkan di Kufah sekitar
tahun 185 H (801 M) dari keluarga kaya dan terhormat. Kakek buyutnya, Al-Asy’as
ibnu Qais, adalah seorang sahabat Nabi Muhammad Saw.[ Sirajuddin, op., cit., hlm. 37]
Al-Kindi mengalami kemajuan pikiran
Islam dari penerjemahan buku-buku asing kedalam bahasa Arab, bahkan ia termasuk
pelopornya. Bermacam-macam ilmu telah dikajinya, terutama filsafat. Dalam suasana
yang penuh pertentangan agama dan mazhab, dan yang dibanjiri oleh paham
golongan Mu’tazilah serta
ajaran-ajaran syi’ah.
Al-Kindi adalah orang pertama yang
memasukkan kajian filsafat sebagai salah satu ilmu keislaman.[ Syadali, op., cit., hlm. 166]
Ia penganut aliran Mu’tazilah dan
kemudian belajar filsafat. Bagi Al-Kindi orang yang menolak filsafat berarti
mengingkari kebenaran, dan dapat dikelompokkan kafir, karena orang tersebut
telah jauh dari kebenaran.[ Jalil, op., cit., hlm. 144]
Tentang kapan Al-Kindi meninggal
tidak ada suatu keteranganpun yang pasti. Mustafa ‘Abd Al-Raziq cenderung
mengatakan tahun wafatnya adalah 252 H, sedangkan Massignon
menunjuk tahun 260 H [ Sirajuddin, op., cit., hlm. 41]. Ia meninggaal pada tahun 873 M di Baghdad [ Syadali, op., cit., hal. 166].
2.
Al-Farabi (870-950 M)
Nama lengkap Al-Farabi adalah Abu
nashr Muhammad bin Muhammad bin Tharkhan Al-Farabi. Sebutan
Al-Farabi diambil dari nama kampung kelahirannya Al-Farabi.[ Syadali, op., cit., hlm. 167] Ia
dilahirkan di Wasij, Distrik Farab, Turkistan pada tahun 257 H/870 M.[ Sirajuddin, op., cit hlm. 65]
Sejak kecil Al-Farabi suka belajar
dan ia mempunyai kecakapan luar biasa dalam bidang bahasa. Bahkan yang
dikuasainya antara lain bahasa Iran. Namun ia tidak mengenal bahasa Yunani dan
Suryani, yaitu bahasa-bahasa ilmu pengetahuan dan filsafat pada waktu itu.
Al-Farabi dalam dunia Islam mendapat kehormatan dengan julukan al-Mu’allim al-Sany (Guru
Kedua).[ Abdul Hakim, op., cit., hlm. 4362]
Pada tahun 330 H (941 M) ia pindah
dan menetap di Damsyik sampai wafatnya pada tahun 337 H (950 M).
3.
Ibnu Sina (980-1037 M)
Nama lengkap Ibnu Sina ialah Abu Ali
Husain Ibnu Abdillah Ibnu Sina. Di Barat lebih dikenal dengan nama Avicenna.[ Syadali, op., cit., hlm. 173]
Ibnu Sina dilahirkan di Afsyana dekat Bukhara pada tahun 980 M dan meninggal
dunia pada tahun 1037 M dalam usia 58 tahun. Jasadnya dikebumikan di Hamadzan.[ Sirajuddin, op., cit., hlm. 91]
Ia dikenal sebagai ahli filsafat dan
ahli kedokteran. Dalam bidang filsafat ia menulis dalam bukunya yaitu: logika,
ilmu alam, ilmu pasti dan ilmu ilmu ketuhanan. Dalam bidang kedokteran yang
berjudul Al-qur’an.
4.
Al-Ghazali (1058-1111 M)
Al-Ghazali bernama lengkap Abu Hamid
Muhammad Ibnu Ahmad Al-Ghazali Al-Thusi. Ia dilahirkan pada tahun 450 H/1058 M
di Ghazal, Thus, Provinsi Khurasan, Republik Islam Iran.[ Ibid, hlm. 155]
Al-Ghazali diberi gelar kehormatan dengan Hujjat al-Islam karena pembelaannya yang mengagumkan
terhadap agama Islam.[ Ibid, hlm. 158] Ia
membela Islam dalam menolak orang-orang Nasrani, juga dalam serangannya
terhadap kaum Batiniah dan kaum Filosof.[ Madkour, op., cit., hlm. 73]
Menurut Al-Ghazali, Allah adalah
satu-satunya sebab bagi alam. Alam Ia ciptakan dengan kehendak dan
kekuasaan-Nya, karena kehendak Allah adalah sebab bagi segala yang ada,
sedangkan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.[ Ibid, hlm. 75] Ia
meninggal dunia pada tahun 1111 M dalam usia 54 tahun di Naisabur.[ Syadali, op., cit., hlm. 180]
5.
Ibnu Rusyd (1126-1198 M)
Nama lengkap Ibnu Rusyd ialah Abu
Ahmad ibnu Muhammad ibnu Rusyd. Ia dilahirkan pada tahun 510 H/1126 M di
Cordova, Andulus sekitar 15 tahun wafatnya Al-Ghazali. Orang barat menyebutnya
dengan nama Averrois.[ Ibid, hlm. 221]
Suatu hal yang sangat mengagumkan
ialah hampir seluruh hidupnya ia pergunakan untuk belajar dan membaca.[ Ibid, hlm. 222] Di
masa mudanya Ibnu Rusyd belajar Teologi Islam, hukum Islam, ilmu kedokteran,
matematika, astronomi, sastra dan filsafat. Pada tahun 1169 M. Ia diangkat
menjadi hakim di Seville dan pada tahun 1182 M hakim di cordova.[ Syadali, op., cit., hlm. 183]
KARYA KARYA yang DIHASILKAN OLEH PARA FILSUF MUSLIM
1.
Karya-Karya Al-Kindi
Menurut Al-Kindi filsafat ialah ilmu
tentang hakikat (kebenaran). Sesuatu menurut kesanggupan manusia, ilmu
ketuhanan, ilmu keesaan, ilmu keutamaan, ilmu tentang semua yang berguna dan
cara memperolehnya serta cara menjauhi perkara-perkara yang merugikan. Dalam
pemikiran filosufisnya Al-Kindi banyak dipengaruhi oleh Aristoteles, Plato, dan
neo-Plationisme. Diantara hasil karyanya yang terkenal adalah Hallmuth Rittter.[ Ibid., hlm. 166-167]
Al-Kindi berpendapat bahwa alam itu
temporal dan berkomposisi, yang karenanya ia membutuhkan Pencipta yang
menciptakannya.[ Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,
2002), cet. II, hlm. 118] Ia membagi filsafat kepada tiga bagian,
yaitu (1) thibiyyat,
sebagai tingkat yang paling bawah; (2) al-ilm ar-riyadhi, sabagai tingkatan tengah-tengah; (3) ilm ar-rububiyyah, sebagai tingkatan
yang paling tinggi. [ Atang Abdul Hakim, Filsafat Umum, (Bandung: Pustaka
Setia, 2008), hlm. 436].
2.
Karya-Karya Al-Farabi
Ia mendefinisikan filsafat sebagai
ilmu yang menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala yang ada. Pokok filsafat
politik kenegaaan Al-Farabi ialah autokrasi.[ Syadali, op., cit., hlm. 69]
Mengenai
pengertian filsafat, ia mengatakan bahwa filsafat adalah mengetahui semua yang
wujud karena ia wujud.[ Abdul Hakim, op., cit., hlm. 436]
Menurut Al-Farabi Tuhan tidak
mengetahui yang particular artinya Pengetahuan Tuhan tentang yang rinci tidak
sama dengan pengetahuan manusia, Tuhan dapat menangkap yang universal.
Pengetahuannya yang paticular tidak secara langsung, melainkan ia sebagai sebab
bagi yang particular. [Mat Jalil, op., cit., hlm. 154-155].
Berikut ini karangan Al-Farabi ialah:
1)
Tahsil As-Sa’adah
2)
‘Ujunul-Masail
3)
Ara-u Ahlil-Madinah Al-Fadhilah
4)
Ih-Sa’u Al-Ulum
5)
Al-Jam’u baina Ra-jai Al-Hakimaini
6)
Aghradhu Ma Ba’da Ra-Jai Al-Hakimaini
3.
Karya-Karya Ibnu Sina
Sebagai filosuf muslim ia berusaha
mendekatkan jarak antara teori filsafat dan dalil agama. Menurutnya bahwa
banyak dari hasil pemikiran filsafat yang sesuai dengan prinsip dengan prinsip
agama. Ibnu Sina mengatakan bahwa Tuhan itu adalah Al-Aqlu(akal). Ia memikirkan diri-Nya lalu melikirkan sesuatu di
luar dirinya menyebabkan timbulnya akal lain yang dinamakan akal pertama [ Syadali, op., cit., hlm. 175].
Bagi Ibnu Sina, Allah adalah sesuatu
yang harus ada dengan sendirinya, tidak ada sesuatu apapun juga yang
menyekutui-Nya dalam substansi-Nya, karena Ia tidak memiliki tandingan maupun
lawan, genus diferensia maupun batasan.
Ibnu Sina walaupun sibuk bekerja
dalam pemerintahan, namun ia adalah seorang penulis yang luar biasa produktif
sehingga ia tidak sedikit meninggalkan karya tulis yang sangat besar
pengaruhnya baik di dunia Barat maupun di dunia Timur. Di antaranya adalah:[ Sirajuddin, op., cit., hlm. 94]
1)
Al-Syifa’
2)
Al-Najat
3)
Al-Qanun fi al-Thibb
4)
Al-Isyarat wa al-Tanbihat
4.
Karya-Karya Al-Ghazali
Al-Ghazali sangat aktif dan disiplin
dalam memberikan kuliah dalam bidang fiqh madzab syafi’i. Dalam perjalanan
hidup yang cukup singkat, Imam Ghazali banyak menyimpan rahasia yang terkandung
dalam berbagai karya yang ditinggalkan.
Karya-karya Al-Ghazali dipekirakan
300 Buah.[ Jalil, op., cit., hlm. 166] Dalam
setiap tahun, ia menghasilkan karya tidak kurang dari 10 buah (kitab/buku)
diantaranya sebagai berikut:
1)
Ilmu kalam dan filsafat
2)
Kelompok fiqh dan ushul fiqh
3)
Kelompok tafsir
4)
Kelompok ilmu tasawuf dan akhlak
secara integral bahasanya.\
Di bawah ini beberapa wasiat dari karya ilmiahnya yang
paling besar pengaruhnya terhadap pemikiran umat Islam.[ Sirajuddin, op., cit., hlm. 159]
1)
Ihya’ Ulum al-Din
2)
Al-Iqtishad fi al-I’tiqad
3)
Maqasid al-Falasifat
4)
Tahafut al-Falasifat
5)
Mizan al-‘amal
5.
Karya-Karya Ibnu Rusyd
Menurut Ibnu Rusyd tugas filsafat
ialah tidak lain dari berfikir tentang wujud untuk mengetahui pencipta semua
yang ada ini. Dan Al-qur’an menyuruh supaya manusia berfikir tentang wujud dan
alam sekitarnya untuk mengetahui Tuhan.[ Ibid, hlm. 184]
Ibnu Rusyd adalah seorang ulama
besar dan pengulas yang dalam terhadap filsafat Aristoteles. Karangannya
meliputi berbagai ilmu, seperti fiqh, usul, bahasa, kedokteran, astronomi,
politik, akhlak, dan filsafat. Tidak kurang dari sepuluh ribu lembar yang telah
ditulisnya.karena sangat tinggi penghargaannya terhadap Aristoteles, tidak
mengherankan kalau ia memberikan perhatian besar untuk mengulaskan dan
meringkas filsafat Aristoteles. Buku-bukunya yang lebih penting dan yang sampai
kepada kita ada empat:[ Abdul Hakim, op., cit., hlm. 504]
1)
Bidayatul-Mujtahid, ilmu fiqh
2)
Faslul-Maqalfi ma baina Al-Hikmati
was-Syari’at min Al-Ittisal (ilmu kalam)
3)
Manahij Al-Adillah fi Aqaidi Ahl
Al-Millah (ilmu kalam)
4)
Tahafur At-Tahafut
Salah satu kelebihan karya tulisnya ialah gaya penuturan
yang mencakup komentar, koreksi, dan opini sehingga karyanya lebih hidup dan
tidak sekedar deskripsi belaka. Namun, amat disayangkan karangannya sulit
ditemukan dan sekiranya ada sudah diterjemahkan orang ke dalam bahasa Latin dan
Hebrew (Yahudi), bukan dalam bahasa aslinya (Arab). Ini semua akibat tragedi
nista yang menimpa dirinya ketika diadili dan dibuang ke Lucena di mana
buku-bukunya yang mengandung filsafat dimusnahkan.
KESIMPULAN
Filsafat merupakan suatu hal yang dipelajari
untuk memperoleh suatu kebenaran. Dasar-dasar aqidah yang termaktub dalam Al
Qur’an juga dianalisa dan dibahas lebih lanjut dengan filsafat untuk
mendapatkan keyakinan yang kokoh. Ajaran filsafat berdasar akal fikiran
manusia, sedangkan agama berdasarkan wahyu. Meskipun jalan yang ditempuh agama
dan filsafat berbeda, namun tujannya sama yaitu mendapat kebenaran yang hakiki.
Para filosof Muslim banyak mengambil
pemikiran Aristoteles, Plato, maupun Plotinus, sehingga banyak teori-teori
filosof Yunani diambil oleh filosof Muslim. filsuf
muslim banyak menyumbangkan pemikiran-pemikiran. mengenai filsafat pada filsuf
muslim dikenal sebagai “Filsafat Islam”.Tokoh filsuf muslim yang pertama kali
menyumbangkan pemikirannya tentang filsafat adalah Al-Kindi. Tidak hanya
Al-Kindi, terdapat beberapa tokoh besar Islam yang ikut memberikan pemikirannya
dan mengkaji ilmu filsafat. Tokoh-tokoh tersebut adalah Al-Farabi, Al-Razi,
Al-Gazali, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd.
Para filosof Muslim banyak mengambil pemikiran
Aristoteles, Plato, maupun Plotinus, sehingga banyak teori-teori filosof Yunani
diambil oleh filosof Muslim. Pengaruh filsafat Yunani inilah yang menjadi
pangkal kontraversi sekitar masalah filsafat dalam Islam. Sejauh mana Islam
mengizinkan masukan dari luar, khususnya jika datang dari kalangan yang bukan
saja Ahl al-kitab seperti Yahudi dan Kristen, tetapi juga dari orang-orang
Yunani yang “pagan” atau musyrik (penyembah bintang).
DAFTAR
PUSTAKA
Atang Abdul dan Beni Ahmad Saebani. (2008). Filsafat
Umum. Pustaka Setia: Bandung.
Jalil, Mat. Filsafat Umum Philosophi.
Syadali, Ahmad dan Mudzakir. (2002). Filsafat
Umum. Pustaka Setia: Bandung
Madkour, Ibrahim. (2002). Aliran dan Teori
Filsafat Islam. PT. Bumi Aksara: Jakarta
Zar, Sirajuddin. (2010). Filsafat Islam,
Filosof dan Filsafatnya. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta
Komentar
Posting Komentar